Sabtu, 25 Februari 2012

Kedudukan Wanita Dalam Islam

Kedudukan Wanita Dalam Islam

     Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan yang terdapat dalam majalah Al-Jail di Riyadh (Arab Saudi) tentang kedudukan wanita dalam Islam yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu Baz.
***
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada siapa saja yang meniti jalannya sampai hari pembalasan.
      Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal.
Kesesatan dan penyimpangan umat tidaklah terjadi melainkan karena jauhnya mereka dari petunjuk Allah dan dari ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya. Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, di mana kalian tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ kitab Al-Qadar III)
Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an betapa pentingnya peran wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, mapun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Adanya hal-hal tersebut juga telah dijelaskan dalam sunnah Rasul.
Peran wanita dikatakan penting karena banyak beban-beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang semestinya dipikul oleh pria. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya, dan santun dalam bersikap kepadanya. Kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan daripada kedudukan ayah. Ini disebutkan dalam firman Allah,
    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)
Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata,    “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)
Dari hadits di atas, hendaknya besarnya bakti kita kepada ibu tiga kali lipat bakti kita kepada ayah. Kemudian, kedudukan isteri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seseorang (suami) telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman,
     “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -semoga Alah merahmatinya- menjelaskan pengertian firman Allah: “mawaddah wa rahmah” bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan rahmah adalah rasa kasih sayang.
Seorang pria menjadikan seorang wanita sebagai istrinya bisa karena cintanya kepada wanita tersebut atau karena kasih sayangnya kepada wanita itu, yang selanjutnya dari cinta dan kasih sayang tersebut keduanya mendapatkan anak.
       Sungguh, kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, isteri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’. Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)
Kita juga tentu tidak lupa dengan peran ‘Aisyah. Banyak para sahabat, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, menerima hadits darinya berkenaan dengan hukum-hukum agama.
Kita juga tentu mengetahui sebuah kisah yang terjadi belum lama ini berkenaan dengan istri Imam Muhammad bin Su’ud, raja pertama kerajaan Arab Saudi. Kita mengetahui bahwa isteri beliau menasehati suaminya yang seorang raja itu untuk menerima dakwah Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab. Sungguh, nasehat isteri sang raja itu benar-benar membawa pengaruh besar hingga membuahkan kesepakatan antara Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Imam Muhammad bin Su’ud untuk menggerakkan dakwah. Dan -alhamdulillah— kita bisa merasakan hasil dari nasehat istri raja itu hingga hari ini, hal mana aqidah merasuk dalam diri anak-anak negeri ini. Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa ibuku sendiri memiliki peran dan andil yang besar dalam memberikan dorongan dan bantuan terhadap keberhasilan pendidikanku. Semoga Allah melipat gandakan pahala untuknya dan semoga Allah membalas kebaikannya kepadaku tersebut dengan balasan yang terbaik.
     Tidak diragukan bahwa rumah yang penuh dengan rasa cinta, kasih dan sayang, serta pendidikan yang islami akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Dengan izin Allah seseorang yang hidup dalam lingkungan rumah seperti itu akan senantiasa mendapatkan taufik dari Allah dalam setiap urusannya, sukses dalam pekerjaan yang ditempuhnya, baik dalam menuntut ilmu, perdagangan, pertanian atau pekerjaan-pekerjaan lain.
Kepada Allah-lah aku memohon semoga Dia memberi taufik-Nya kepada kita semua sehingga dapat melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridhai. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz III/348)

Tidak Suka Dengan Kelahiran Anak Wanita Termasuk Perilaku Jahiliyah
Tanya:
       Pada zaman ini, kita sering mendengar perkara-perkara yang biasa menjadi bahan perdebatan orang karena ganjilnya. Di antaranya mungkin kita pernah mendengar sebagian orang mengatakan, “Kami tidak suka menggauli istri kami jika yang lahir adalah anak perempuan.” Sebagian lagi mengatakan kepada istrinya, “Demi Allah, jika engkau melahirkan anak perempuan, saya akan menceraikanmu.” -Kita berlepas diri dari orang-orang seperti itu-. Sebagian dari wanita ada yang mendapatkan perlakuan semacam itu dari suaminya. Mereka merasa gelisah dengan perkataan suaminya yang seperti itu. Bagaimana dan apa yang mesti mereka perbuat terhadap perkataan suami seperti itu? Apa nasehat Syaikh dalam masalah ini?
Jawab: Saya yakin apa yang dikatakan saudara penanya adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Saya tidak habis pikir, bagaimana ada seorang suami yang kebodohannya sampai pada taraf seperti itu; mengultimatum akan menceraikan isterinya jika anak yang dilahirkannya anak perempuan. Lain masalahnya, kalau sebenarnya dia sudah tidak suka dengan isterinya, kemudian ingin menceraikannya dan menjadikan masalah ini sebagai alasan agar dapat menceraikannya. Jika ini masalah yang sebenarnya; dia sudah tidak bisa bersabar lagi untuk hidup bersama isterinya, dan telah berusaha untuk tetap hidup berdampingan dengannya akan tetapi tidak berhasil; jika ini masalah yang sebenarnya, hendaknya dia mencerai istrinya dengan cara yang jelas, bukan dengan alasan seperti itu.
Karena perceraian dibolehkan asalkan dengan dengan alasan yang syar’i. Akan tetapi, meskipun demikian, kami menasehatkan kepada para suami yang mendapatkan hal-hal yang tidak disukai pada diri isterinya agar bersabar, sebagaimana yang difirmankan Allah, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (isteri-isteri kamu), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)
Adapun membenci anak perempuan, tidak diragukan bahwa itu merupakan perilaku jahiliyah, dan di dalamnya terkandung sikap tasakhuth (tidak menerima) terhadap apa yang telah menjadi ketetapan dan takdir Allah. Manusia tidak tahu, mungkin saja anak-anak perempuan yang dimilikinya akan lebih baik baginya daripada mempunyai banyak anak laki-laki. Berapa banyak anak-anak perempuan justru menjadi berkah bagi ayahnya baik semasa hidupnya maupun setelah matinya. Dan berapa banyak anak-anak lelaki justru menjadi bala dan bencana bagi ayahnya semasa hidupnya dan tidak memberi manfaaat sedikit pun setelah matinya.
Rujukan:
Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 519.
Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz (III/348).

Sumber: Majalah Fatawa
***
Artikel www.muslimah.or.id

Jumat, 24 Februari 2012

Tidur Sehat Ala Rasulullah SAW

TIDUR SEHAT ALA RASULULLAH SAW

23 Agt 2011 | Rubrik: Ngutips (Ngunik-Tips) - Dibaca: 873 kali
     “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha”. (QS. Al-Furqaan 25:47)
      Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi telah bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu merasakan kantuk, hendaklah kamu tidur sehingga hilang rasa kantuknya. Jika seseorang mengerjakan sholat ketika mengantuk, kemungkinan dia sedang membaca istighfar padahal sebenarnya dia sedang mencari dirinya.”
      Islam adalah agama yang seimbang. Selain kewajiban berusaha, Islam juga mementingkan tidur dan istirahat agar ibadah dan aktifitas keseharian dapat dilakukan dengan baik. Dalam sebuah hadis disebutkan tentang kisah Abu Darda’, ia tidak mau tidur malam karena tak ingin “terganggu waktunya" dalam melakukan ibadah. Salman, sahabatnya, telah menegurnya dengan berkata: “Tuhanmu ada hak atasmu, badanmu ada hak atasmu dan isterimu ada hak atasmu. Berikan kepada semua ini haknya.” Ketika Nabi mendengar perkataan Salman, Baginda berkata : “Benarlah Salman.” (HR. Bukhari)
       Islam tidak hanya menyuruh seseorang itu tidur, bahkan menekankan bahwa ia adalah hak badan yang perlu ditunaikan. Dalam hadits yang lain diceritakan bahwa Baginda Nabi pernah memasuki masjid dan nampak olehnya seutas tali yang merentangi dua tiang. Selepas bertanya, Baginda diberitahu bahwa tali itu adalah kepunyaan Zainab agar dia dapat berpaut kepadanya ketika keletihan melakukan sholat. Nabi pun kemudian mengeluarkan perintah: “Buka tali ini! Hendaklah salah seorang di antara kamu shalat ketika dirinya cergas, dan ketika sudah mengantuk tidurlah.” (HR. Bukhari-Muslim)
Menurut para ahli, manusia menghabiskan sampai satu per tiga hidupnya untuk tidur. Mengingat rata-rata usia kita, itu berarti komitmen untuk tidur, berkisar selama dua puluh tahun! Yang menjadi pertanyaan, apakah kamu mendapat manfaat dari istirahat tersebut?
THE POWER OF SLEEP

      Tidur memulihkan, meremajakan dan memberi energi pada tubuh dan otak. Sepertiga hidup kita, yang seharusnya dilewati dengan tidur, berpengaruh besar terhadap dua pertiga bagian lainnya, dalam hal kewaspadaan energi, suasana hati, berat badan, persepsi, daya ingat, daya pikir, kecekatan reaksi, produktivitas, kinerja, keterampilan komunikasi, kreativitas, keselamatan, dan kesehatan prima.
“Semua orang memang perlu tidur (di malam hari) sesuai kebutuhan,” komentar Joyse Welsleben, Ph.D., psikolog asal AS. “Kalau tidak, otak akan menyuruh kita tidur di siang hari.”
Dengan tidur, sebenarnya seseorang melakukan pembersihan diri dari “sampah penyebab kelelahan”. Mengutip penelitian seorang ahli kimia, dr.P.Carbone dari AS, dalam sehari produk “sampah” yang berasal dari seluruh kegiatan otot tubuh (sebagian besar terdiri atas dioksida dan asam laktat) menumpuk dalam darah mempunyai efek toksik pada syaraf, menyebabkan rasa lelah dan mengantuk. Selama tidur “sampah” ini dimusnahkan, sehingga saat bangun tubuh terasa segar. Namun puncak rasa segar, baru dirasakan dua jam sesudahnya.”
Bersandarlah, pejamkan mata, dan cobalah untuk rileks selama beberapa menit yang dapat membantu menjernihkan pikiran. Jika benar-benar tertidur,
semua yang kita lakukan untuk mengurangi stres selalu membuat sebuah perubahan. (James B. Maas, Ph.D, seorang professor Universitas Cornell di Ithaca, New York, penulis “Power Sleep”, HarperCollins, 1999)
Kekurangan Tidur dan Kinerja

Suasana hati adalah salah satu hal pertama yang akan dipengaruhi oleh kekurangan tidur. Perubahan suasana hati, termasuk depresi, semakin mudah marah dan kehilangan rasa humor. Dengan kekurangan tidur sedikit saja, ambang batas untuk marah semakin rendah. Kita dapat dengan mudah kehilangan teman, membuat marah suami atau istri, mengacaukan negosiasi, dan menciptakan permusuhan.
Stres, kecemasan, dan kehilangan kemampuan menyelesaikan masalah. Perasaan kuat bahwa penderita tidak  bisa menyelesaikan masalah sederhana atau beban kerja moderat. Kecemasan, frustasi, dan kegugupan meningkat. Ketidakmampuan memelihara cara pandang yang baik atas persoalan, atau untuk bersantai dalam situasi tekanan moderat.
Kurang tertarik berinteraksi dengan orang lain. Ingin menghindari partisipasi kelompok atau berintegrasi  dengan orang lain karena kelelahan. Ingin memutuskan hubungan dengan dunia luar. Tambah gemuk. Konsumsi minuman ringan dan makanan berkadar gula tinggi digunakan agar tetap terjaga saat kekurangan tidur. Banyak orang yang berusaha menurunkan kecemasan atau rasa bosan dengan makan.
Kekebalan terhadap penyakit dan infeksi virus menurun. Sel kekebalan pembunuh alami tubuh kita berhenti berfungsi seiring dengan meningkatnya kekurangan tidur. Merasa lamban. Hilangnya motivasi untuk memenuhi tugas-tugas yang ada atau melakukan usaha-usaha baru.
Produktivitas menurun. Penurunan fungsi kognitif dan waktu reaksi, meliputi hal-hal berikut:

-Kemampuan berkonsentrasi menurun.
-Kemampuan mengingat menurun (terutama ingatan jangka pendek).
-Kemampuan menangani tugas kompleks menurun.
-Kemampuan berfikir logis menurun.
-Kemampuan mengasimilasi dan menganalisis informasi baru menutrun.
-Kemampuan berfikir kritis menurun.
-Kemampuan mengambil keputusan menurun.
-Kosakata dan keprigelan berkomunikasi menurun.
-Kreatifitas menurun.
-Keprigelan dan koordinasi motorik menurun.
-Keprigelan pemahaman atau pengamatan menurun.

(Sumber: Dr. James B. Maas, Power Sleep)

TIDUR ala RASULULLAH

“Dan Kami jadikan tidurmu sebagai pelepas lelah bagimu.” (QS. An Naba’ :9) Tidur Rasulullah merupakan tidur yang ideal dan sempurna, tidur yang betul-betul mendatangkan manfaat bagi kesegaran dan kesehatan fisik serta pemulihan kekuatan psikis.
Di antara bimbingan yang beliau ajarkan adalah:
1. Bersiwak
Sunnah yang paling sering dan yang paling senang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam adalah bersiwak. Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun memiliki faedah yang banyak, baik bersifat keduniaan yaitu berupa kebersihan mulut, sehat dan putih giginya, menghilangan bau mulut, dan lain-lain, maupun faedah-faedah yang bersifat akhirat, yaitu ittiba’ (ikut) kepada Nabi dan mendapatkan ridha Allah Subhannahu wa Ta’ala.
Sebagaimana Rasulullah :
“Siwak membersihkan mulut dan diridhoi Allah.” (HR. Ibnu Khuzaima)
2. Berwudhu
“Jika kamu mendatangi pembaringanmu, hendaklah berwudhu sebagaimana engkau berwudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah dengan bertelekan pada rusuk kananmu...” (HR. Bukhari)
3. Membersihkan tempat tidur
Ubay bin Ka’Ab R.A. menuturkan kepada kita bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda : “Jika salah seorang di antara kamu mendatangi pembaringannya, hendaklah mengibaskan kasurnya dengan ujung kain (untuk membersihkannya) serta sebutlah nama Allah Subhannahu wa Ta’ala. Sebab ia tidak tahu kotoran apa yang melekat pada kasurnya itu sepeninggalannya.” (HR. Muslim)
4. Berdoa dan terus berdzkir hingga terlelap
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu anha ia berkata : Setiap kali Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam hendak tidur di pembaringannya pada tiap malam,
beliau merapatkan kedua telapak tangannya. Lalu meniup dan membaca surah Al-Ikhlas (Qul Huwallaahu Aha), surah Al-Falaq (Qul A’uudzu birabbil Falaq), dan surah An-Naas (Qul A’uudzu birabbin Naas). Kemudian beliau mengusap tubuh yang dapat dijangkau dengan kedua telapak tangannya itu. Dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari).
5. Berbaring dengan posisi ke arah kanan (berbaring di atas lambung kanan)
Jika hendak berbaring, hendaklah berbaring dengan meletakan (bertumpu) pada rusuk kanan. Dan hendaklah mengucapkan :
“Maha suci Engkau Ya Allah Ya Rabbi, dengan menyebut nama-Mu aku meletakkan tubuhku, dan dengan nama-Mu jua aku mengangkatnya kembali. Jika engkau mengambil ruhku (jiwaku), maka berilah rahmat padanya. Tetapi, bila Engkau melepaskannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hambaMu yang salih.” (HR. Muslim)
Dari Abu Qatadah Radhiallaahu anhu ia berkata : “Sesungguhnya bila Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam beristirahat dalam perjalanannya di malam hari, beliau berbaring dengan bertelekan pada rusuk kanan. Dan apabila beliau beristirahat pada waktu menjelang subuh, beliau tegakkan lengan dan beliau letakkan kepala di atas telapak tangannya.” (HR. Muslim)
6. Tidur dengan alas sederhana
Meskipun anugerah yang Allah Subhannahu wa Ta’ala curahkan kepada kita begitu banyak, namun cobalah lihat wahai saudaraku, kasur yang dipakai penghulu para Nabi, penutup para rasul, makhluk yang paling utama, sebaik-baiknya bani Adam di atas muka bumi. Diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu anha ia berkata: “Sesungguhnya kasur yang dipakai oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam hanyalah terbuat dari kulit binatang (yang telah disamak) yang diisi dengan sabut kurma.’ (HR. Muslim)
Pada suatu ketika, beberapa orang sahabat Radhiallaahu anhum datang menemui Nabi S.A.W., berikut juga Umar Radhiallaahu anhu. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam lantas bangkit mengubah posisinya, Umar melihat tidak ada kain yang melindungi Rasulullah dari tikar yang dipakai beliau untuk berbaring. Ternyata tikar tersebut membekas pada tubuh beliau. Melihat pemandangan itu Umar pun menangis, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bertanya kepadanya : “Apa gerangan yang membuat engkau menangis wahai Umar?”
Ia menjawab : “Demi Allah, karena saya tahu bahwa engkau tentu lebih mulia di sisi Allah  Subhannahu wa Ta’ala daripada raja Kisra maupun kaisar. Mereka dapat berpesta pora di dunia sesuka hatinya. Sedangkan  Engkau adalah seorang Utusan Allah Subhannahu wa Ta’ala namun keadaan engkau sungguh sangat memprihatinkan sebagaimana yang aku saksikan sekarang.”
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda : “Tidakkah engkau ridha wahai Umar, kemegahan dunia ini diberikan bagi mereka, sedangkan pahala akhirat bagi kita!”
Umar Radhiallaahu anhu menjawab : “Tentu saja.”
“Demikianlah adanya.” Jawab Nabi. (HR. Ahmad)
Bagaimana? Tentunya ingin mencontohkan tidur sehat ala Rasulullah Saw. kan Sob?
[Kiriman: Lumeis Alzheimer]

Jumat, 03 Februari 2012

Pengertian Sumber Daya Alam dan Pembagian Macam/Jenisnya - Biologi

Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup kita. Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya.
A. Sumber daya alam berdasarkan jenis :
- sumber daya alam hayati / biotik
adalah sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup.
contoh : tumbuhan, hewan, mikro organisme, dan lain-lain
- sumber daya alam non hayati / abiotik
adalah sumber daya alam yang berasal dari benda mati.
contoh : bahan tambang, air, udara, batuan, dan lain-lain
B. Sumber daya alam berdasarkan sifat pembaharuan :
- sumber daya alam yang dapat diperbaharui / renewable
yaitu sumber daya alam yang dapat digunakan berulang-ulang kali dan dapat dilestarikan.
contoh : air, tumbuh-tumbuhan, hewan, hasil hutan, dan lain-lain
- sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui / non renewable
ialah sumber daya alam yang tidak dapat di daur ulang atau bersifat hanya dapat digunakan sekali saja atau tidak dapat dilestarikan serta dapat punah.
contoh : minyak bumi, batubara, timah, gas alam.
- Sumber daya alam yang tidak terbatas jumlahnya / unlimited
contoh : sinar matahari, arus air laut, udara, dan lain lain.
C. Sumber daya alam berdasarkan kegunaan atau penggunaannya
- sumber daya alam penghasil bahan baku
adalah sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan benda atau barang lain sehingga nilai gunanya akan menjadi lebih tinggi.
contoh : hasil hutan, barang tambang, hasil pertanian, dan lain-lain
- sumber daya alam penghasil energi
adalah sumber daya alam yang dapat menghasilkan atau memproduksi energi demi kepentingan umat manusia di muka bumi.
misalnya : ombak, panas bumi, arus air sungai, sinar matahari, minyak bumi, gas bumi, dan lain sebagainya.

Template by:
Free Blog Templates